Ikatan Penata Persona Indonesia (IPPRISIA) Kalimantan Timur menggelar kegiatan Halalbihalal dan Penguatan Organisasi di Lotus Garden Samarinda, Sabtu, 25 April 2026. Kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat nilai organisasi, soliditas pengurus, serta arah gerak organisasi agar lebih berdampak bagi masyarakat.
Kegiatan ini tidak hanya diikuti Dewan Pengurus Provinsi IPPRISIA Kalimantan Timur, tetapi juga dihadiri Dewan Pengurus Cabang IPPRISIA Kota Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara, dan Kabupaten Kutai Timur.
Ketua IPPRISIA Kaltim, Marliana Wahyuningrum, menyampaikan bahwa halalbihalal bukan sekadar ajang berkumpul dan bersilaturahmi, melainkan upaya meneguhkan kembali nilai, makna, dan tujuan organisasi yang dibangun bersama.
Menurutnya, IPPRISIA bukan hanya berbicara mengenai struktur dan program kerja, tetapi bagaimana organisasi mampu hadir memberi arti dan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
“Organisasi bukan hanya soal program kerja, tetapi bagaimana membawa dampak perubahan bagi manusia dan lingkungan sekitarnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, IPPRISIA pada awalnya berfokus pada pengembangan kepribadian. Namun seiring perkembangan, organisasi bertransformasi menjadi wadah untuk menata persona setiap individu dengan mengedepankan nilai kemanusiaan dan budaya Indonesia.
“Bagaimana menciptakan nilai humanis. Kita berbicara tentang orientasi pada manusia dan empati agar orang lain bisa menjadi lebih baik,” katanya.
Marliana menilai, peran pengurus provinsi maupun kabupaten/kota sangat strategis dalam menghidupkan misi organisasi melalui tindakan nyata. Karena itu, ia mengajak seluruh anggota mulai menggeser pola kegiatan yang hanya bersifat formalitas tanpa dampak berkelanjutan.
“Tidak perlu banyak kegiatan, cukup satu kegiatan tetapi benar-benar berdampak. Yang kita kejar bukan kuantitas, tetapi kualitas,” tegasnya.
Ia menambahkan, program organisasi seharusnya tidak hanya berdasarkan keinginan ketua atau individu tertentu, melainkan menyesuaikan kebutuhan masyarakat di daerah masing-masing agar dapat memberi manfaat luas dan membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak.
Salah satu contoh yang disampaikan yakni menjadikan Trisari sebagai kampung percontohan untuk membangun karakter masyarakat melalui peningkatan pendidikan, kesehatan, komunikasi keluarga, hingga keterampilan masyarakat.
Menurutnya, kegiatan yang dekat dengan masyarakat dan dilakukan secara berkelanjutan akan lebih mudah diterima serta mampu menciptakan perubahan secara alami.
“Kalau masyarakat merasa dekat dan menerima keberadaan kita, maka peningkatan kualitas hidup akan berjalan otomatis. Kita harus menjadi agen perubahan,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Marliana juga mengingatkan pentingnya menjaga etika dalam berorganisasi. Ia menekankan bahwa pengurus harus mampu menjadi contoh sebelum memberikan arahan kepada orang lain.
“Perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Terang itu dari dalam, bukan dari luar. Kita harus berani berpikir, belajar, berbicara, dan selangkah lebih maju,” tuturnya.
Ia juga menyinggung pentingnya soliditas dan kepemimpinan dalam organisasi. Menurutnya, pemimpin di IPPRISIA bukan untuk dilayani, melainkan hadir untuk melayani dan memberdayakan anggota.
“Saya yakin dan percaya, ketika kita bekerja bersama dengan empati dan komitmen yang tinggi, maka manfaat yang dirasakan akan jauh lebih besar dari yang dibayangkan,” katanya.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut juga digelar seminar dan penguatan organisasi dengan menghadirkan trainer IPPRISIA, Endro S Efendi. Materi yang disampaikan tidak hanya dikemas secara komunikatif dan interaktif, tetapi juga diselingi berbagai permainan yang sarat makna guna memperkuat kebersamaan, kepemimpinan, empati, serta pola pikir anggota organisasi.
Melalui kegiatan itu, IPPRISIA Kaltim berharap langkah-langkah kecil yang dilakukan hari ini dapat menjadi awal perubahan besar di masa mendatang serta semakin memperkuat soliditas organisasi dalam memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.








